cara mendidik anak hiperaktif dan adhd namenoble.com web hosting terbaik
Parenting, tumbuh kembang anak

Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD

Akhir-akhir ini istilah ADHD(Attention Deficit Hyperactivity Disorder), Autis, dan Hiperaktif sedang marak dibahas dibanyak forum baik online maupun offline. Sebelum kita membahas Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari istilah itu sendiri, berikut karakteristiknya.

Hal ini diperlukan mengingat mudahnya seseorang atau bahkan institusi pendidikan(yang seharusnya lebih paham terkait hal ADHD) me-label anak hanya karena dia terlihat lebih aktif dari teman-teman sebayanya.

Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD namenoble.com web hosting terbaik

Labeling semacam ini tentu saja tidak baik bagi tumbuh kembang si-anak sendiri, mulai dari membedakan perlakuan kepada anak, hingga hal-hal lain seperti pola asuh dan cara mendidik anak baik di sekolah maupun dirumah.

Yang terjadi umumnya adalah anak-anak yang kurang mendapatkan waktu bermain dan sarana bermain yang sesuai dengan usianya. Artinya, banyak anak di usia 3-5 tahun hanya berada di dalam rumah saja sepanjang hari, jarang sekali aktif bermain di taman, tempat olahraga outdoor semacam kolam renang, arena sepeda dan lain sebagainya.

Anak-anak usia 3 – 5 tahun membutuhkan ruang gerak yang luas, selain rasa ingin tahu yang tinggi, juga butuh sarana menyalurkan dan mengasah skill motorik dan sensorik, yang itu hanya bisa didapat jika anak bermain di luar rumah.

Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD namenoble.com web hosting terbaik

Cara mendidik anak dengan diam dirumah seharian, hanya akan mengecilkan potensi anak, dan membuat dia menjadi tidak terkontrol jika berada pada tempat yang lebih luas dan menarik, karena ia tak terbiasa dengan tempat semacam itu, yang akhirnya membuat si anak di cap susah diatur, hiperaktif dan lain sebagainya.

Sebenarnya ADHD tidak hanya terjadi pada anak-anak, ADHD juga bisa terjadi pada remaja bahkan pada orang dewasa. Namun gejalanya biasanya mulai berkembang pada masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa. Diperkirakan terdapat 3-5 persen anak-anak atau anak usia sekolah yang mengalami kondisi ini. Tanpa penanganan yang tepat, ADHD dapat menimbulkan konsekuensi yang serius seperti mal-prestasi (under-achievement), kegagalan di sekolah atau pekerjaan, susah menjalin hubungan atau interaksi sosial, rasa tidak percaya diri yang berlebihan, dan juga depresi kronis.

Gejala ADHD

Gejala atau pertanda ADHD bisa berbeda bagi setiap orang. Gejalanya biasanya mulai tampak saat masa anak-anak. Berikut ini adalah tiga gejala utama ADHD yang umum pada anak-anak:

1. Hiperaktif

Tampak seperti kelebihan energi, selalu aktif dan tidak bisa diam. Tanda-tandanya  yang biasanya tampak adalah:

  • Susah berdiam diri, menggeliat, gelisah, dan sering berdiri kembali ketika duduk
  • Selalu bergerak, seperti berlari atau memanjat pada sesuatu
  • Tidak bisa duduk dengan tenang
  • Tidak bisa bermain dengan tenang
Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD namenoble.com web hosting terbaik

2. Inattention atau bermasalah pada perhatian

Berupa gangguan atau kesulitan untuk memperhatikan sesuatu. Gejala yang biasanya tampak antara lain:

  • Sangat susah untuk memusatkan perhatian
  • Tampak tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara kepadanya
  • Perhatiannya sangat mudah teralihkan
  • Sering membuat kesalahan akibat kurang berhati-hati atau karena kurang memperhatikan
  • Susah mengikuti arahan atau menyelesaikan tugas
  • Sering melupakan atau menghilangkan sesuatu
  • Memiliki kecenderungan untuk mengingau saat tidur

Penyebab dan Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD namenoble.com web hosting terbaik

3.Impulsif

Penderita ADHD biasanya memiliki sifat impulsif atau bertindak tanpa berpikir  (spontan). Gejala yang dapat dikenali misalnya:

  • Kesulitan untuk menunggu giliran
  • Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai atau sebelum diberi kesempatan
  • Sering menginterupsi orang lain
  • Bertindak impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya, seperti berlari di tengah acara formal, mengejar sesuatu yang berbahaya, dsb.

Selain ketiga gejala di atas, terdapat juga beberapa gejala lain yang bisa terjadi pada penderita ADHD, antara lain:

  • Menunjukkan sikap menentang atau melanggar peraturan
  • Susah untuk bersosialisasi dengan orang lain
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Kemampuan mengorganisasi yang buruk
  • Cepat bosan
  • Gelisah
  • Sering terburu-buru dalam mengambil keputusan

 

Penyebab ADHD

Penyebab pasti ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak. Selain itu, terdapat tiga faktor yang dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu:

  • Faktor genetik/keturunan
    Sebagian besar penderita ADHD mendapatkan kondisi ini dari orang tuanya. ADHD memiliki kecenderungan besar terjadi pada keluarga/keturunan.
  • Ketidakseimbangan kimia
    Para ahli meyakini bahwa ketidakseimbangan kimiawi pada otak (neurotransmitter) merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan gejala ADHD.
  • Kinerja otak
    Pada anak yang menderita ADHD, didapati bahwa area otak yang mengontrol perhatian tampak tidak terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang tidak menderita ADHD.

Pengobatan dan Penanganan ADHD

Walaupun kondisi ini sangat sulit untuk disembuhkan, terdapat beberapa tindakan atau penanganan bagi penderita ADHD. Yang paling utama adalah mengunjungi Dokter spesialis anak dan syaraf serta psikolog anak.

Dokter, khususnya dokter Spesialis Anak dan Syaraf serta Psikolog memiliki ilmu untuk melakukan observasi dan diagnosa apakah anak dengan gejala-gejala seperti yang disebutkan diatas memang benar mengidap ADHD, sehingga tidak menimbulkan labelling kepada anak.

Observasi terhadap anak yang diduga mengidap ADHD ini tidak bisa dilakukan sembarangan, dan cepat. Seringkali dokter yang berpengalaman membutuhkan waktu minimal 1 jam untuk melakukan observasi bagi anak yang diduga mengidap ADHD, mulai dari wawancara dengan anak hingga beberapa tes lainnya.

Jika memang anak tersebut mengidap ADHD, maka pengobatan di sini berarti tindakan atau strategi untuk membantu mengontrol gejala-gejala ADHD. Tujuannya adalah membantu penderitanya meningkatkan kemampuan sosial, meningkatkan kemampuan dalam belajar/bekerja, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan menjaga penderitanya dari tingkah laku yang dapat membahayakan diri sendiri.

Pengobatan bagi penderita ADHD bisa berupa obat-obatan ataupun terapi. Obat-obatan yang sering diberikan oleh dokter biasanya berupa stimulan, yang digunakan untuk membantu mengontrol sikap hiperaktif dan impulsif pada anak, serta membantu meningkatkan fokus atau perhatian.

Penanganan berupa terapi (psikoterapi) juga umum diberikan pada penderita ADHD. Terapi yang diberikan bisa berupa pelatihan kemampuan sosial, modifikasi tingkah laku (behavior), dan juga terapi kognitif. Orang tua dan keluarga juga biasanya akan diberikan pelatihan berupa pengenalan terhadap ADHD, cara menghadapi gejala ADHD pada anak, cara mendidik anak adhd, pendekatan-pendekatan yang digunakan, ataupun berupa support bagi orang tua yang memiliki anak penderita ADHD.

 

Cara Mendidik Anak Hiperaktif dan ADHD

Kesabaran dan kegigihan adalah syarat utama dalam cara mendidik anak Hiperaktif dan ADHD. Selain itu beberapa hal berikut mampu meringankan efek dari ADHD dan meningkatkan konsentrasi mereka.

1. Kreatifitas orang tua dalam cara mendidik anak hiperaktif.

Salah satu alasan utama mengapa anak sulit konsentrasi saat belajar adalah karena ia tidak tertarik atau tidak suka dengan materi yang dipelajari. Jangankan anak, orangtua saja bila tidak tertarik atau tidak suka pada hal yang ia pelajari pasti sulit untuk konsentrasi.

Hal yang sangat wajar dan manusiawi. Walau dipaksa bagaimanapun, bila sudah tidak tertarik atau tidak suka, pasti akan sangat sulit untuk konsentrasi. Anak sulit konsentrasi bukannya mereka tidak mau konsentrasi. Bagaimana mungkin mereka konsentrasi bila apa yang mereka pelajari tidak menarik, mereka tidak suka, tidak relevan, dan mereka merasa tidak mampu?

Solusinya? Pastikan anak merasa materi yang ia pelajari relevan, berguna, ia merasa senang, dan mampu sebelum mulai belajar.

2. Membuat Suasana Belajar yang Kondusif

Salah satu faktor yang membuat anak ADHD dan hiperaktif sulit konsentrasi adalah gangguan dari lingkungan atau situasi yang tidak mendukung. Saat belajar di rumah, sebaiknya tidak boleh ada gangguan seperti televisi, radio, komputer, handphone, gadget, atau apa saja yang bisa membuat anak tidak bisa atau sulit fokus.

Yang juga perlu diperhatikan adalah bila dalam satu ruang ada dua atau lebih anak belajar. Biasanya, karena gaya belajar anak berbeda, akan timbul masalah. Ada anak yang perlu keadaan tenang untuk belajar. Ada yang perlu mendengar musik atau suara televisi. Bila ini terjadi pasti anak yang butuh tenang saat belajar akan mengalami sulit konsentrasi.

3. Menjaga Kesehatan

Proses, kegiatan, dan lama waktu belajar anak saat ini benar-benar menguras energi fisik maupun mental anak. Coba perhatikan jadwal sekolah anak. Umumnya sekolah masuk jam 07.30, bahkan ada yang lebih awal lagi, jam 06.30 seperti di Jakarta.

Bila masuknya sepagi ini berarti anak harus bangun lebih awal lagi. Sering anak bangun dengan buru-buru, tidak sempat sarapan, masih ngantuk tapi sudah harus berangkat ke sekolah. Kondisi ini membuat tubuh fisik dan suasana hati anak tidak nyaman dan pasti berimbas pada kegiatan belajarnya di sekolah.

Menurut Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, jam belajar anak SD di Indonesia mencapai 1.400 jam per tahun, jauh melampaui standar belajar jam per tahun yang ditetapkan UNESCO yaitu hanya 800 jam belajar.

Rata-rata anak SD belajar di sekolah 5-7 jam per hari. Setelah pulang sekolah biasanya anak masih belajar lagi di tempat les. Ini bisa 3 – 4 jam lagi. Total dalam sehari anak diforsir belajar selama 8 sampai 10 jam. Bisa dibayangkan betapa lelah fisik dan mental anak. Dalam kondisi kelelahan seperti ini anak tentu sulit konsentrasi karena butuh istirahat.

Solusinya? Pastikan anak mendapat istirahat cukup ketika dirumah dan bekali anak dengan makanan yang bergizi, dan tambah dengan vitamin bila perlu.

4. Metode Belajar

Dari cara mendidik anak dengan memasukkan informasi ke dalam otak, melalui lima indera, kita mengenal ada lima gaya belajar: visual (penglihatan), auditori (pendengaran), tactile/kinestetik (perabaan/gerakan), olfaktori (penciuman), dan gustatori (pengecapan).

Dalam konteks belajar bahan ajar, yang paling sering digunakan hanya tiga cara yaitu visual (27%), auditori (34%), dan tactile/kinestetik (39%). Apa saja yang perlu diketahui orangtua dan guru mengenai gaya belajar ini?

Biasanya kita punya dua gaya belajar dominan. Misalnya, visual dan auditori, atau visual dan tactile/kinestetik, atau auditori dan tactile/kinestetik. Namun, ada juga yang dominan hanya di satu gaya belajar.

Anak visual belajar dengan cara melihat, membaca, baik itu buku, brosur, internet, poster, mindmap, atau apa saja yang dapat dilihat atau dibaca. Anak ini dapat duduk diam memerhatikan guru atau orangtua, dan cenderung suka mencoret-coret.

Anak auditori belajar dengan pendengaran, lebih suka dengar cerita daripada membaca sendiri. Anak tipe ini yang biasanya suka belajar sambil ditemani ibunya. Ibu membacakan materi pelajaran, anak duduk santai atau berbaring, dan ia belajar dengan mendengar.

Dan saat dites, ia bisa. Anak auditori biasanya butuh kondisi tenang untuk dapat belajar. Bila belajar sendiri, ia akan membaca dengan mengeluarkan suara agar dapat mendengar apa yang ia pelajari.

Anak tactile/kinestetik belajar melalui gerakan, sentuhan, berjalan, dan mengalami. Anak ini yang biasanya dicap sebagai anak hiperaktif karena tidak bisa duduk diam dalam waktu lama.

Cara belajar efektif untuk anak ini melibatkan gerakan seperti manipulasi objek, membuat model, menggunting, menggarisbawahi, membuat mindmapping, atau apa saja yang mengandung gerak. Bila mereka tidak mendapat kesempatan bergerak dan dipaksa duduk diam, pikirannya yang akan bergerak ke sana ke mari. Dan ini yang disebut dengan tidak bisa konsentrasi.

Dari tiga jenis gaya belajar, dapat disimpulkan bahwa yang paling berpontensi menjadi anak “bermasalah” di sekolah adalah anak kinestetik karena sulit duduk diam. Guru mengajar dengan cara visual dan auditori.

Ini tidak dapat mengakomodasi kebutuhan gerak anak kinestetik. Bila anak banyak bergerak, guru biasanya akan menegur atau memarahi si anak dan akhirnya beri label “hiperaktif”, “sulit konsentrasi”, “ADD” atau “ADHD”.

Semakin anak diminta diam memerhatikan pelajaran, semakin ia merasa gelisah. Konsentrasinya digunakan untuk mengendalikan tubuhnya supaya tidak bergerak, agar tidak dimarahi guru, dan bukan untuk memerhatikan pelajaran.

Solusinya? Beri anak kesempatan untuk bergerak saat belajar atau memasukkan informasi ke dalam otaknya. Jangan paksa anak duduk diam, tidak boleh bergerak, apalagi dalam waktu lama. Dalam belajar, libatkan anak dalam aktivitas banyak gerak.

5. Berikan Rasa Nyaman

Salah satu sebab anak sulit konsentrasi, dan ini jarang disadari orangtua, adalah karena anak merasa cemas atau takut. Anak sendiri tidak tahu bahwa ia cemas atau takut karena memang masih terlalu kecil untuk memahami hal ini.

Saat anak cemas atau takut, ia mengalami hal yang telah saya ceritakan di atas. Pikirannya tidak bisa fokus dan terus melakukan pemindaian. Perilaku ini yang dinamakan ADHD.

Pertanyaan penting berikutnya adalah mengapa atau apa yang menyebabkan anak cemas atau takut?

Satu yang paling dibutuhkan anak adalah rasa aman. Bila rasa aman ini tidak ia dapatkan maka pasti timbul rasa cemas. Kecemasan anak bisa berawal sejak dalam kandungan ibu. Saat ibu mengandung dan mengalami berbagai emosi negatif, misal marah, cemas, takut, kecewa, sedih, terluka, atau perasaan negatif lain, tubuh ibu menghasilkan hormon stress.

Hormon stres ini juga masuk ke dalam tubuh anak dan memengaruhi perkembangan otak anak yang berfungsi untuk kendali diri dan konsentrasi yaitu prefrontal cortex kiri, lebih tepatnya orbitofrontal cortex.

Cemas pada anak juga bisa terjadi akibat proses tumbuhkembang yang tidak kondusif. Misalnya, anak tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, orangtua sering ribut, anak sering ditinggal atau diabaikan, jarang diajak bicara, anak sering dipukul, jarang atau tidak pernah dibelai, diberi kasih sayang.

Kurangnya kasih sayang ini membuat anak merasa cemas dan terlihat dalam perilakunya. Anak juga bisa merasa cemas dan takut karena sekolah, bisa karena guru, teman kelas, akibat perundungan (bullying), atau karena tidak menguasai materi pelajaran.

Untuk mengatasi hal ini tentunya perasaan cemas atau takut dalam diri anak perlu dinetralisir. Selanjutnya anak perlu mendapatkan rasa aman, perhatian, dukungan, kasih sayang, cinta. Bila anak merasa dicintai, sering diberi sentuhan kasih sayang secara fisik, maka otaknya akan menghasilkan hormon oksitosin yang sangat baik untuk membantu perkembangan orbitofrontal cortex.

Satu informasi bagus untuk para ibu yang sedang hamil. Usahakan untuk melahirkan secara normal. Saat proses persalinan normal tubuh ibu akan mengalami semburan oksitosin, yang tentu akan masuk juga ke tubuh anak dan memberi pengaruh positif. Hal ini tidak terjadi dalam persalinan dengan operasi.

Cemas anak juga bisa berasal dari orangtua, terutama ibu. Bila ibu sering merasa cemas, sering menceritakan perasaan cemasnya pada si anak, sering melarang, ini tidak boleh, itu tidak boleh, atau anak melihat perilaku atau bahasa tubuh ibu yang menunjukkan kecemasan, disadari atau tidak, kecemasan ini juga masuk ke dalam diri anak.

6. Berolahraga Secara Teratur

Ada anak yang punya energi berlebih dalam tubuhnya. Anak tipe ini pasti tidak bisa duduk diam dalam waktu lama. Ia pasti gelisah karena ada desakan dari dalam untuk bergerak, mengeluarkan energi. Orangtua atau guru yang tidak menyadari hal ini akan menyebut anak sulit konsentrasi.

Energi yang besar dalam diri anak sebenarnya adalah berkah luar biasa yang bila disalurkan dengan benar akan sangat positif bagi tumbuh-kembang anak. Anak, saat masih kecil, butuh energi besar untuk menjelajahi dunia sekitarnya, untuk menyempurnakan dirinya.

Dorongan untuk bergerak bertujuan untuk melatih koordinasi otot-otot besar, motorik kasar, sehingga bekerja dengan baik. Energi yang tidak terpakai akan menumpuk di dalam badan dan membuat anak gelisah.

Salah satu murid SD Anugerah Pekerti pernah mengalami hal ini. Anak ini cerdas dan rajin. Namun, kadang ia merasa sulit konsentrasi. Ia merasa ada energi berlebih dalam dirinya. Bila mulai sulit konsentrasi ia minta ijin guru untuk keluar kelas dan lari mengelilingi lapangan beberapa kali. Setelahnya ia kembali masuk kelas dan bisa duduk dengan tenang, nyaman, dan mampu menyimak materi yang dijelaskan gurunya dengan sangat baik.

Di masa kecil penulis dulu, saat masih di SD, penulis tidak pernah menemukan ada kawan yang sulit konsentrasi karena energi berlebih. Setelah di ingat-ingat lagi ternyata dulu waktu kecil kami banyak bergerak, bermain, kejar-kejaran, panjat pohon, lompat tali, main petak umpet, main bola, menyusuri sungai, menangkap ikan, berenang, dan permainan lain yang butuh gerak dan cukup menguras energi. Setiap sore kami kumpul di lapangan dan bermain. Tanpa disadari, kegiatan yang kami lakukan ternyata sangat menguras energi.

Kondisi sekarang sangat beda. Anak sekarang yang bergerak adalah ibu jarinya yang digunakan main game. Anak sudah sangat jarang berlari di lapangan, kejar-kejaran atau main bola. Itu sebabnya ada banyak energi menumpuk di tubuh anak.

Solusinya? Beri anak kegiatan yang menguras energinya. Tentunya kegiatan yang anak suka, misalnya bersepeda, lari, renang, olahraga beladiri, main piano, main basket, futsal, badminton, panjat tebit, atau yang lain. Setelah energinya terkuras anak pasti menjadi tenang.

Penutup.

ADHD dan atau Hiperaktif bukanlah akhir dari masa depan anak. Anak ADHD tetap bisa berprestasi, bahkan melebihi anak normal sekalipun, tergantung bagaimana cara mendidik anak tersebut. Salah satu bukti nyata pengidap ADHD bisa berprestasi tinggi adalah Michael Phelps.

Michael Phelps adalah penderita ADHD, ketergantungannya akan obat untuk terapi ADHD-nya membuat dia sering di bully teman-temannya. Namun secara perlahan Michael Phelps menyadari bahwa olahraga, khususnya renang mampu menjadikan ia lebih fokus sekaligus mengatasi energi berlebihnya yang membuat ia sulit fokus di kelas.

Dan kini, Michael Phelps adalah salah satu atlit renang Amerika tersukses sepanjang sejarah!

Orang tua punya peranan penting dalam membantu anak ADHD mencari penyebab dan cara mendidik anak hiperaktif, bantu mereka memahami dirinya dan mencari jalan keluar sekaligus memotivasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *